Rabu, 23 Mei 2018

Mutiara Terindah ada di Dasar Laut Yang Paling Dalam





Terobsesi Kalung Mutiara yang melingkar di leher Wanita Besi atau "Lady Iron" PM Inggris, Madam Margaret Thatcher, juga Kanselir  German, Madam Angel Merkel. Yang mana kalung mutiara itu selalu melingkar di leher kedua Madam, saat dinas harian ataupun acara-acara resmi kenegaraan. Konon mutiara tersebut berasal dari dasar samudera Atlantik yang paling dalam, di ambil oleh penyelam-penyelam handal. Tentulah barang langka dan hanya orang tertentu yang pantas dan layak memiliki. Jikalau Inyong dapat memiliki walaupun jenis dan kwalitas sama seperti milik kedua Madam itu,tentulah nggak ada yang percaya. Akan tetapi sebagai manusia Inyong berhasrat memiliki hiasan mutiara walaupun produk lokal dari Papua atau Sumbawa. Yang akan Inyong persembahkan kepada orang-orang tercinta. Nah bermula dari PT. SPO diarea PT. AMMAN Sumbawa mengadakan Trainning Diving yang di support oleh kedua Perusahaan tersebut. Sungguh Inyong sangat berminat dan sempat mencoba diving di pandu oleh Instrukur bersertifikat. First diving trainning unsukses, Inyong tunggu schedule tranning minggu berikutnya, akan tetapi tak kunjung terlaksana karena kesibukan Trainner. Hingga bulan Desember 2018 Inyong di pangggil ke kantor Jakarta, konon hendak di rolling atau mutasi kapal lain. Akan tetapi hingga kini tak kunjung di tempatkan alias di rumahkan alias di pecat halus. "Duh Gusti....Ingkang murbeng dumadi Inyong pulang dengan gontai karena hanya bisa beli mutiara air tawar di Air Port Lombok Praya.  Karena mutiara air laut mahal tak terbeli olehku.
               S E L E S A I

Kamis, 19 Oktober 2017

Favourite Food






Ini kisah Inyong alami saat awal join di PT. SPO dan Inyong On board di TB. Batu Hijau yang di pake buat assist di Sumbawa area PT. Newmmont yang sekarang berganti menjadi PT. AMMAN MINERAL... Untuk menghilangkan kejenuhan Inyang kadang-kadang pergi keluar Gate untuk cari makanan apabila sedang nggak selera makan masakan bikinan koki...dan Inyong ada beberapa langganan; penjual jajanan pasar, kacang rebus, nasi bebek rica-rica. Dan malahan Inyong jumpa dengan penjual celana kolor dari Desa Gandu - Comal. Suatu pagi Inyong jalan-jalan dan mampir di penjual nasi bebek rica-rica, karena sudah beberapa kali Inyong makan di tempat tersebut yang nota bene dari Jawa namanya mbak Jihan, maka kamipun cukup akrab dan sering berbahasa jawa. "Kapan cuti Mas?? tanya mbak Jihan "Saya baru  dua bulan kerja kok, ya belum dapat cuti" jawab Inyong. "Kenapa Mbak? lanjut Inyong. "nDaaak....! ntar kalo cuti saya mau pesen? jawab mbak Jihan. "Sini banyak orang tanya tapi bahannya nggak ada" lanjut mbak Jihan.
"Mau bikin masakan favorit selain bebek rica-ricakah?" tanya Inyong penasaran. "Iya...." jawab mbak Jihan singkat. "Apa itu mbak??" tanya Inyong penasaran. "Jengkol...!! "Banyak yang tanya semur jengkol, tapi bahannya nggak ada." tegas mbak Jihan. "Clegguk..dada Inyong semremeng, ......pesen sih pesen, favorit sih favorit mBak..,!! pake perasaan dong!! Masa' ganteng-ganteng gini naik pesawat gotong-gotong kardus bawa jengkol...kira-kira dong mBak! hati Inyong dongkol. "Emang pesen berapa kontainer.....??" tanya Inyong makin kesel.
mBak Jihan cuma nyengir seperti nggak punya dosa... Astaghfirullah hal adziiiimm.....emang tampang Inyong tampang juragan jengkol kali ya...? The End

Minggu, 11 Desember 2016

Buah Kejujuran








Pernah kita dengar atau bahkan mungkin kita sendiri mengatakan: "Sekarang Mah Susah cari Orang Jujur...??!!, apa lagi di kota besar seperti Jakarta... Tanpa kita sadari bahwa kita sendiri tidak berlaku jujur, sedangkan kita masing-masing sangat membutuhkan kejujuran. Kisah ini Inyong(saya) saksikan sendiri pada tahun 2011 sekitar bulan Mei, di mana Inyong masih join di PT. SLP dan kapal Inyong(saya) operasi di Petro China Tg. Jabung Jambi. Inyong bersama KKM di panggil supaya datang ke Jakarta, untuk persiapan ambil kapal baru dari Singapura. Kami berdua terbang dari Jambi ke Jakarta, setiba di Bandara Sukarno-Hattta kami menunggu Bus DAMRI jurusan Gambir karena kami di rekomendasikan nginap di hotel Surya yang notabene dekat dengan stasiun Gambir. Tiba di Gambir kami tunaikan sholat ashar di mushola, selesai sholat kami duduk-duduk di teras mushola sambil cari-cari taxi. Seorang sopir taxi menghampiri. "Mau Kemana Mas" Seorang laki-laki bertanya. "Hotel Surya, Jl. Batu Ceper...Bang" jawab Inyong. Kamipun tawar-menawar harga, Setelah sepakat....., "Ok..tunggu di sini saya ambil mobilnya" kata si laki-laki. Mobil taxi plat hitam Xenia warna silver masih kinclong menghampiri, Inyong buka pintu duduk dan memasang safety belt. Jok dan aksesorisnya masih terbungkus plastik. Meskipun jarak dari Gambir ke hotel tidaklah jauh tapi perjalanan harus mutar dari selatan tugu Monas ke Jl. Merdeka Barat. "Asal mana Bang?" Inyong tanya pada si sopir. "Jawa, tapi lahir dan besar di Jakarta" jawab si sopir. "Mobilnya baru Bang" tanya Inyong. "Kalo di Jakarta harga cashnya berapa Bang? lanjut Inyong. "Nggak tahu..." jawab si sopir singkat. Nampaknya si sopir sedang tidak selara ngomong... "Ah Masa'...beli mobil baru nggak tahu harganya" desak Inyong "Ini mobil di pemberian orang" jawabnya singkat. "Waow..."Inyong terheran "Bagaimana ceritanya Bang" tanya KKM yang duduk di belakang sopir. "Dulunya saya sopir taxi biasa" kata si sopir. (maksudnya sopir taxi plat kuning) "Ada penumpang sepasang suami-istri dari Kalimantan" lanjutnya mulai semangat bercerita. "Mereka  minta di antar ke Hotelnya menginap, setelah itu saya pulang sementara cuci mobil saya temukan berkas-berkas tertinggal didalam mobil dibawah jok, saya tidak tahu isinya apa. Kemudian saya balik lagi ke hotel, dan melaporkan pada resepsionis kalo ada sepasang suami-istri tamu yang nginap barangnya tertinggal di taxi supaya hubungi saya..., tadinya barang itu di minta sama resepsionis tapi nggak saya kasih...! saya tinggali nomer HP dan fotto copi KTP." cerita si sopir makin semangat. "Sejak itu mereka jadi langganan saya, setiap datang di Jakarta kemana-mana pasti minta antar saya," Si sopir makin semangat. "Suatu hari mereka minta diantar ke bandara Sukarno-Hatta karena urusannya sudah selesai, tapi sebelum ke bandara minta mampir di showroom. "Saya di suruh bawa mobil baru, Taxinya saya tinggal, setibanya di bandara suaminya bilang: "Itu mobilnya bawa pulang Abang" kata suami penumpang. "Bawa pulang bagemana...?!" tanya sopir nggak paham. "Betul Bang....mobilnya buat Abang, itu surat-suratnya sudah atas nama Abang, ada di jok belakang" kata istrinya penumpang menjelaskan. " Ah...Ibu bercanda...Kok bisa atas nama saya Bu" si sopirpun makin keheranan. "Loh...waktu abang mengembalikan berkas-berkas Abangkan ningggalin poto copi KTP sama resepsionis hotel kami menginap" jelas istri penumpang. (percakapan antara sopir dan penumpang suami-istri cukup sampai disini agar nggak bingung. Kembali kecerita antara si sopir dan Inyong berdua... "Ternyata berkas-berkas yang tertinggal itu isinya surat tanah" lanjut cerita si sopir pada Inyong. "Di dalam tanah itu terdapat Batubara, dan selama mereka di Jakarta, mereka sedang nego...sudah di tawar 25M.....dan mobil ini di berikan ke saya" Si sopir mengahkiri ceritanya, karena kami sudah sampai di depan hotel. "Ooo...Subhanallah...."Inyong bergumam. "Rejeki memang nggak kemana ya Bang..." sambung KKM. Inyong membayar ongkos sesuai kesepakatan.... "Maaf ya Bang.....saya nggak bisa kasih mobil, saya juga nggak punya mobil" kata Inyong bercanda. """ha..haa..." si sopir tertawa. Itulah Buah Kejujuran Sopir Taxi....yang layak dapat imbalan. Sementara GONG 2000, masih " Menanti Kejujuran"...marilah "Kita Mulai Kejujuran" dari diri kita masing-masing. Insya Allah Kejujuran masih kita dapati....... Note
 

*Inyong = saya
     


                W A S S A L A M

Jumat, 04 November 2016

Sarung O...Sarung

Yang suka nonton acara"Damai Indonesiaku" disalah satu stasion TV swasta, pastilah lihat pula iklan sponsornya yaitu "SARUNG". Dalam iklan tersebut di peragakan oleh Peragawan dan Peragawati yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, berbusana topi songkok, baju koko dan kain sarung bagi peragawannya. Anggun juga motif sarung yang di kenakan peragawatinya. Atau pernah lihat juga iklan yang di bintangi Om Deddy Miswar, Ya..! sarung adalah jenis sandang yang sangat lazim di Indonesia karena dipakai oleh semua kalangan. "Sarung Kita Semua.... "Resmi bisa Santai bisa... Itulah slogan dari iklan kedua Brand Sarung tersebut. Tapi tidak lazim bagi negara lain. Bak pepatah " Lain ladang lain belalang, lain Lubuk lain pula ikannya. Kisah ini Inyong(saya) alami sendiri manakala join di Brunei di tahun 2014. Dan pada saat itu bertepatan bulan Ramadlan, Inyong(saya) dan teman, siFeri asal Slawi di ajak Bosun yang asli warga Brunei berkesempatan sholat tarawih di masjid terdekat dari Pelabuahan Serasa/Brunei. Dengan numpang mobil milik Bosun kami meluncur, tentu dengan topi kopyah baju koko dan Sarung. Hanya sarung tidak kami pakai layaknya orang siap sholat tapi sarung tersebut kami lipat panjang dan kami kalungkan di leher atau diikat di pinggang seperti Kostum pilm siPitung, karena kami memakai celana 3/4 panjang, dan sepulang tarawih kami berniat mampir di kedai wedang jahenya orang India tapi pelayannya TKW asal Indoesia. Esok malamnya kami berdua siap-siap, tapi kok Bosun di tunggu-tunggu tak kunjung mengajak, Mungkin kecapian karena seharian kerja, begitu share Inyong sama siFeri. Esok malamnyapun Bosun tak kunjung ngajak.... "Ada yang nggak lazim, Inyong berprediksi. Betul dugaanku, siFeri...menceritakan bahwa, Bosun share ke KKM bahwa dirinya merasa malu mengajak kami tarawih mengenakan sarung tidak sesuai adatnya warga Brunei. "Awak malu sarung kok di buat begitu...," share bosun pada KKM. (maksudnya sarung tidak di pakai selayaknya) Hal tersebut saya ceritakan ke sama senior yang sering join di kawasan Sarawak dan Sabah melalui HP. "O..Iyo..memang begitu, sarung di muliakan di sana, di pakainya juga pada acara-acara tertentu." Begitu penjelasan senior Inyong. Lain lagi di negara Timur Tengah atawa kawasan Arab. Cerita ini Inyong temukan di Medsos. Di alami oleh seorang mahasiswa yang belajar disana. Setiap hari Jumat menjelang Sholat Jumat dia ke masjid dengan mengenakan songkok, baju koko dan kain sarung, layaknya kaum laki-laki di Indonesia yang siap tunaikan sholat Jumat, akan tetapi sepajang jalan dari kost menuju masjid pergi - pulang, ibu-ibu dan gadis-gadis remaja yang melihat senyum-senyum, tentu dirinya merasa heran. Adakah yang salah pada dirinya. (bahasa gaulnya di ketawain sama cewek-cewek dan ibu-ibu atau mungkin janda-janda). Merasa dirinya aneh diapun menanyakan pada teman-teman seniornya... Dan diapun paham kalo di ketawain sama cewek-cewek. "Sarung itu kalo disini... dipakainya oleh ibu-ibu yang selesai berhubungan intim sama suaminya" ( itu penjelasan dari seniornya O...Sarung...Sarung...!!! Santai Bisa.....Ehempun Bisa... Note ; *Inyong = saya S E L E S A I

Kamis, 23 Juni 2016

Daun Turi berbuah Pisang

Minus 8 Iedil Fitri 1435H jembatan Comal ambrol, sehingga arus mudik dari Jakarta diarahkan ke jalur alternatif. Jalan-jalan kampung padat merayap termasuk jalan kampung didepan rumah Inyong(saya). Usai kuliah subuh Inyong(saya) jalan-jalan kerumah Simbah, yang berjarak kurang lebih 200 meter. Di samping rumah Simbah ada dua batang pohon Turi yang tumbang akibat di guyur hujan dan keberatan daunnya yang lebat, akan tetapi pohon Turi tersebut banyak teronggongnya ( teronggong adalah bunga pohon turi berwarna putih ) teronggong yang masih kuncup bisa di masak di buat sayur lodeh atau urapan. Inyong dan De Ras (kakak ipar...) memangkas daunnya dan petiki teronggongnya. Dari pada daunnya di buang Inyong(saya) kumpulin dan bawa pulang buat Om Rumli yang piara beberapa ekor kambing. Tak berapa banyak daun turi Inyong ikat dan tenteng pulang...melewati dan mampir di rumah Om Rumli. "Om..ni..rambanan buat kambing" kata Inyong pada Om Rumli yang kebetulan sedang berdiri di teras. ( rambanan adalah makanan ternak kambing ). "Lumayan dari pada di buang" kata Inyong sambil meletakkannya di samping rumah. Tiga langkah Inyong balik badan Om Rumli memanggil. "Dik Ruslim...tunggu sebentar. Tak berapa lama dia keluar sambil membawa satu sisir pisang susu. "Matur suwun (terima kasih).." Inyong melanjutkan langkah pulang. Sampai di rumah bojo Inyong bertanya. "Kok bawa pisang...?? "Iyo tadi dari rumah Simbah ada pohon turi roboh, dari pada di buang daunnya tak bawa tak kasih Om Rumli... Eee..di kasih pisang... Jadinya "Daun Turi Berbuah Pisang", nggak kalah lagunya Brueri yang berjudul "Buah semangka berdaun sirih"< Ha..ha..ha... Bojo Inyong tertawa..... Note: *Inyong = Saya *Teronggong = bunga pohon turi

Sudah Kenal Juga Tak Cinta

"Beng.....! "Ada apa Kang... "Kok....memelas temen nasibe Kakang" "Ana apa Kang...? "Masa' sudah lama nyimpan nomer HP kok di sms katanya gak ada namanya... "Sapa Kang...? "Itu teman kita... "Ha..ha..ha... Itulah sepenggal dialog di sms antara Inyong dan Rusmi shohib inyong. Setelah dia paham maksudnya....diapun tertawa ngakak.... Pepatah yang mengatakan "Tak kenal maka tak cinta...sangat mungkin. Wong sudah kenal juga belum tentu cinta. Boro-boro cinta, nomor HP yang sudah lama di simpan juga nggak di kenal.

 Note:
  *Inyong = saya
  *Beng = Nok, nduk, (jawa), Neng(sunda)/panggilan sayang pada adik perempuan.


 T A M A T

Senin, 01 Februari 2016

Cinta Sabun Mandi

Ini kisah bukan nyontek dangdutnya Engkong Djadja Mihardja. Dan buat Tuan William Shakespeare Inyong(saya) kagak setuju bila Tuan katakan "apa arti sebuah nama?" Sebab ternyata arti sebuah nama sangat penting. Dan kalo salah sedikit atau kebalik abjadnya bisa-bisa tengsin di ketawain pelayan cantik. Bagi teman seperjuangan pasti paham apabila menyusuri Sungai Barito dari muara hingga Muarateweh...bagaikan menyusuri Sungai Amazon....hii...serem...dech!! Kalo di Amazon ada Anaconda, Jagoar, dll...Tapi kalo Buaya di Sungai Barito lebih lengkap speciesnya; ada anak preman, buaya loreng, juga sales manis, kalo yang terakhir ini semua pasti demen.. Ini kisah terjadi manakala Inyong transit di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin setelah berhari-hari keluar dari Bintanglinggi/Muarateweh hendak ke Marunda. Untuk melanjutkan perjalanan ke Marunda kami butuh persiapan seperti rokok, odol, snack dan sabun mandi. Gara- gara KKM yang ngefans sama sebuah merk sabun mandi inilah cerita terjadi. Beberapa teman turun ke darat semantara Inyong dan KKM jaga di kapal sambil nonton tv dan titip belanja sama Bas Januar dan Pak Lik. Sekitar jam 23.00 WITA mereka balik di kapal. "Bas nggak ada sabun itu" kata Januar pada KKM "Ya nggak ada lah, wong salah sebut" sambung pak Lik. "Sudah di jelasin sama pelayan minimarket kalo Sabun itu SHINZU'I, Januar bilang SHIMIZU ya di ketawain pelayannya lah...terang Pak Lik sambil tertawa-tawa. Inyong yang ndengerin pun ketawa... "Kalo SHIMIZU belinya di toko material Bas, Itu merk mesin pompa". Inyong turut nimbrung. "Kalo DISUN SING SUWE" itu lagu dangdutnya Ike Nurjanah Ha...ha...ha..nggak nyambung blasss....

 Note :
*Inyong = saya

Entri yang Diunggulkan

Mutiara Terindah ada di Dasar Laut Yang Paling Dalam

Terobsesi Kalung Mutiara yang melingkar di leher Wanita Besi atau "Lady Iron" PM Inggris, Madam Margaret Thatcher, juga Kansel...